Demanding

Sedari kecil saya sangat bersyukur untuk tidak merasakan kurangnya kasih sayang dari keluarga. Walaupun keluarga saya bukanlah keluarga yang sempurna, namun kasih sayang kedua orang tua saya masih sangat besar bahkan hingga kini saya telah terbilang dewasa.

Ada satu kegagalan dalam keluarga saya yang membuat saya terkadang minder, yaitu kakak saya. Kakak laki-laki pertama saya mengalami gangguan mental yang saya rasa karena kesalahan didikan dari orangtua saya. Namun kini saya menyadari kalau gangguan mental seseorang juga di dapat dari lingkungan terdekatnya.

Lingkungan terdekat dari seseorang adalah keluarga. Kesadaran ini cukup memukul saya beberapa waktu lalu. Ya, cukup terlambat memang. Perlakuan saya dulu sebagai adik terhadap kakak laki-laki saya yang sungguh memerlukan perhatian khusus ini tidak bisa di bilang benar. Saya sering marah bahkan berteriak ketika kakak laki-laki saya melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Padahal kalau dipikir lagi, saya bisa saja berbicara sewajarnya tidak perlu dengan emosi dan memperlakukannya seperti orang paling bodoh. Tidak hanya saya, kedua orang tua saya dan kakak perempuan juga saya memperlakukan salah satu anggota keluarga kami ini sebagai orang paling bodoh. Kepribadian yang berbeda yang dipunyanya membuat ia melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak normal di usianya.

Kini usianya sudah 27 tahun. Ketika kecil, kakak laki-laki saya masih seperti anak kebanyakan namun ia hanya sedikit hyperaktif. Tetapi setidaknya ia masih bersekolah normal hingga lulus sekolah menengah pertama. Beranjak memasuki gerbang sekolah menengah atas sepertinya ia mulai bermain dengan orang yang salah.

Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sangat ingat ketika saya pulang sekolah siang itu, kakak dibawa pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan bau alkohol yang menyengat. Wajah bapak dan mama saya marah bercampur cemas waktu itu. Saya hanya berani mengintip dari celah pintu kamar. Sepertinya entah mulai saat itu atau mungkin telah lama sebelumnya saya tidak menyukai kakak laki-laki saya, sangat.

Kelakuan-kelakuan aneh mulai terbentuk pada diri kakak laki-laki saya di umur ia yang masih sekitar 16 tahun. Seperti dia tidak pulang ke rumah dalam beberapa hari, lalu kejadian ia ditangkap polisi entah karena apa saya lupa hingga kelakuan-kelakuan bodoh yang dirasa dari pergaulannya yang salah. Himpitan ekonomi waktu itu juga membuat kedua orang tua saya sering terbawa emosi. Ya, emosi marah, marah dan marah. Dengan kelakuan kakak laki-laki saya yang sangat menjengkelkan bagi mereka. Dan saat itu saya hanya semakin saja menutup mata dan telinga.

Karenanya, secara tidak langsung orang tua saya juga mengajarkan saya menjadi pribadi yang pemarah. Marah dengan keadaan, marah dengan kenapa saya mempunyai kakak yang salah gaul seperti itu, marah karena kenapa saya berada di tengah keluarga yang tergolong sangat sederhana secara finansial, dan kenapa kenapa lainnya sering menghantui pikiran saya.

Namun semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Lulus sekolah menengah saya dan kakak perempuan mendapat pekerjaan yang cukup layak membuat orang tua saya merasa berkecukupan dalam hal finansial. Disamping melihat kakak laki-laki saya yang mungkin saja sudah tidak punya masa depan. Dan lagi, kemudian kakak perempuan saya menikah dengan lelaki desa yang baik hati dan cukup mapan. Membuat finansial keluarga cukup membaik, bahkan dirasa lebih dari cukup. Perlakuan kepada kakak laki-laki saya juga membaik seiring berjalannya waktu. Walaupun sepertinya tidak akan mengubah apapun keadaan kakak laki-laki saya.

Keadaannya kini terlihat memperhatinkan walaupun ia masih terbilang normal karena bukan juga golongan difable yang mempunyai kecacatan fisik. Kecacatannya kini berupa mental. Ia tidak merasakan apa-apa ketika jatuh dan kepalanya berdarah-darah (pernah ia pulang dengan kondisi seperti ini). Ia tidak merasakan bahwa tubuhnya kotor tidak mandi berhari-hari. Ia juga tidak bisa mengatur volume nada suara ketika berbicara, terdengar seperti berteriak. Ia lebih jarang pulang ke rumah. Dan tentu saja, jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan. Seperti itulah.

Mulai sekarang saya mencoba untuk memperlakukan keluarga dan orang-orang terdekat saya sebaik yang saya bisa. Memandang sebuah kesalahan bukan sebagai indikasi bahwa seseorang itu bodoh. Hanya saja, karena memang tidak tau atau kurang paham. Dan juga, menghargai. Saya ingin menghargai apapun yang dilakukan orang-orang terdekat saya dengan berterimakasih ketika seseorang memberikan saya sesuatu apapun bentuknya dan meminta maaf ketika saya berbuat salah. Itu akan saya tanam dalam benak dan pikiran saya, walaupun beberapa hal dirasa sulit. Ya, tapi saya bisa. Harus bisa. Helaaaww ini cuma hidup, kalau kita mau pasti kita bisa, ya kan?

Iklan