Pukul Tiga Pagi

Saya sebut ia pukul tiga pagi.

Pada mulanya saya terbangun dengan kesal. Mendengar seseorang telah sibuk beraktifitas pada waktu manusia kebanyakan masih terlelap tidur. Cipak-cipuk air dan suara sandal karet yang bergesekan dengan kaki yang basah menjadi paduan suara yang membuyarkan mimpi indah saya kala itu.

Kemudian saya beranjak dari tempat tidur dan melihatnya dari balik jendela rumah ibu. Siluet lelaki muda tinggi tegap yang sedang sibuk menggosok-gosok motornya memasuki retina mata saya. Bukan perihal yang istimewa, tetapi entahlah, yang saya lihat ketika itu adalah sebuah keindahan di seberang sana.

Ketika musim hujan tiba, ia semakin kerap melakukan aktifitas yang menurut saya dikerjakanya pada jam yang tak lazim itu. Kemudian saya dengar dari ibu, ternyata ia mendapat pekerjaan dengan shift yang tidak memihak jam tidur yang normal. Saya maklum, namun tentu saja saya masih tidak bisa terlelap ketika lelaki itu melakukan aktifitasnya.

Namun, ternyata rutinitas itu tak berlangsung lama. Si pukul tiga pagi tidak lagi tinggal di depan rumah ibu. Ia sudah tak lagi menggangu saya dengan rutinitasnya. Meanwhile, saya masih saja otomatis terbangun pada jam awal rutinitas pria itu.

Ah, kini saya rindu.

Karena suara itu yang membangunkan saya dari nyenyaknya lelap, menyiapkan saya untuk waktu sholat yang hampir dekat.

Saya ingin berterimakasih padanya untuk waktu-waktu itu.