Pixel

Gambar digital yang bisa kita lihat melalui layar gadget maupun komputer pada dasarnya terdiri dari kumpulan pixel warna. Setiap pixel warna berbentuk kotak-kotak kecil yang tertata rapi dan bergradasi rumit hingga membentuk sebuah gambar yang dapat kita baca atau simpulkan.

Sebenarnya saya hanya ingin membicarakan sedikit mengenai cara pandang. Saat kita memandang suatu masalah, reaksi kita terhadap masalah itu berasal dari pengalaman kita di masa yang telah lalu. Ibarat masa lalu itu adalah sebuah pixel warna, banyaknya kejadian di masa lalu itulah yang membentuk gambaran pada masa kini. Gambaran akan reaksi apa yang perlu kita lakukan selanjutnya.

Menginjak di bulan kedua tahun ini, belum banyak masalah yang kuselesaikan atau sekedar ku lewati dengan diam. Pun tidak ada resolusi yang berarti bagi saya di tahun ini, membuat saya selow-selow saja untuk bangun lalu beraktifitas kemudian tidur kembali.

Tentu saja beberapa resolusi yang menjadi re-masalah di tahun lalu membuat saya untuk lebih berhati-hati lagi dalam bersikap. Untuk itu, di tahun ini saya ingin berbuat dan bersikap lebih baik lagi pada manusia-manusia yang sehari-hari saya temui.

Karena selama ini saya masih percaya, jika kita tidak berusaha mencari buruk dan melukai orang lain, hadiah dari Allah pasti deh ndak bakal tanggung-tanggung.

Doa saya, saya hanya ingin sekali bahagia tanpa menyakiti orang lain.

Ah tiba-tiba saja saya tidak tahu harus melanjutkan apa. Sekian dulu ya.

Pukul Tiga Pagi

Saya sebut ia pukul tiga pagi.

Pada mulanya saya terbangun dengan kesal. Mendengar seseorang telah sibuk beraktifitas pada waktu manusia kebanyakan masih terlelap tidur. Cipak-cipuk air dan suara sandal karet yang bergesekan dengan kaki yang basah menjadi paduan suara yang membuyarkan mimpi indah saya kala itu.

Kemudian saya beranjak dari tempat tidur dan melihatnya dari balik jendela rumah ibu. Siluet lelaki muda tinggi tegap yang sedang sibuk menggosok-gosok motornya memasuki retina mata saya. Bukan perihal yang istimewa, tetapi entahlah, yang saya lihat ketika itu adalah sebuah keindahan di seberang sana.

Ketika musim hujan tiba, ia semakin kerap melakukan aktifitas yang menurut saya dikerjakanya pada jam yang tak lazim itu. Kemudian saya dengar dari ibu, ternyata ia mendapat pekerjaan dengan shift yang tidak memihak jam tidur yang normal. Saya maklum, namun tentu saja saya masih tidak bisa terlelap ketika lelaki itu melakukan aktifitasnya.

Namun, ternyata rutinitas itu tak berlangsung lama. Si pukul tiga pagi tidak lagi tinggal di depan rumah ibu. Ia sudah tak lagi menggangu saya dengan rutinitasnya. Meanwhile, saya masih saja otomatis terbangun pada jam awal rutinitas pria itu.

Ah, kini saya rindu.

Karena suara itu yang membangunkan saya dari nyenyaknya lelap, menyiapkan saya untuk waktu sholat yang hampir dekat.

Saya ingin berterimakasih padanya untuk waktu-waktu itu.

Demanding

Sedari kecil saya sangat bersyukur untuk tidak merasakan kurangnya kasih sayang dari keluarga. Walaupun keluarga saya bukanlah keluarga yang sempurna, namun kasih sayang kedua orang tua saya masih sangat besar bahkan hingga kini saya telah terbilang dewasa.

Ada satu kegagalan dalam keluarga saya yang membuat saya terkadang minder, yaitu kakak saya. Kakak laki-laki pertama saya mengalami gangguan mental yang saya rasa karena kesalahan didikan dari orangtua saya. Namun kini saya menyadari kalau gangguan mental seseorang juga di dapat dari lingkungan terdekatnya.

Lingkungan terdekat dari seseorang adalah keluarga. Kesadaran ini cukup memukul saya beberapa waktu lalu. Ya, cukup terlambat memang. Perlakuan saya dulu sebagai adik terhadap kakak laki-laki saya yang sungguh memerlukan perhatian khusus ini tidak bisa di bilang benar. Saya sering marah bahkan berteriak ketika kakak laki-laki saya melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Padahal kalau dipikir lagi, saya bisa saja berbicara sewajarnya tidak perlu dengan emosi dan memperlakukannya seperti orang paling bodoh. Tidak hanya saya, kedua orang tua saya dan kakak perempuan juga saya memperlakukan salah satu anggota keluarga kami ini sebagai orang paling bodoh. Kepribadian yang berbeda yang dipunyanya membuat ia melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak normal di usianya.

Kini usianya sudah 27 tahun. Ketika kecil, kakak laki-laki saya masih seperti anak kebanyakan namun ia hanya sedikit hyperaktif. Tetapi setidaknya ia masih bersekolah normal hingga lulus sekolah menengah pertama. Beranjak memasuki gerbang sekolah menengah atas sepertinya ia mulai bermain dengan orang yang salah.

Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sangat ingat ketika saya pulang sekolah siang itu, kakak dibawa pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan bau alkohol yang menyengat. Wajah bapak dan mama saya marah bercampur cemas waktu itu. Saya hanya berani mengintip dari celah pintu kamar. Sepertinya entah mulai saat itu atau mungkin telah lama sebelumnya saya tidak menyukai kakak laki-laki saya, sangat.

Kelakuan-kelakuan aneh mulai terbentuk pada diri kakak laki-laki saya di umur ia yang masih sekitar 16 tahun. Seperti dia tidak pulang ke rumah dalam beberapa hari, lalu kejadian ia ditangkap polisi entah karena apa saya lupa hingga kelakuan-kelakuan bodoh yang dirasa dari pergaulannya yang salah. Himpitan ekonomi waktu itu juga membuat kedua orang tua saya sering terbawa emosi. Ya, emosi marah, marah dan marah. Dengan kelakuan kakak laki-laki saya yang sangat menjengkelkan bagi mereka. Dan saat itu saya hanya semakin saja menutup mata dan telinga.

Karenanya, secara tidak langsung orang tua saya juga mengajarkan saya menjadi pribadi yang pemarah. Marah dengan keadaan, marah dengan kenapa saya mempunyai kakak yang salah gaul seperti itu, marah karena kenapa saya berada di tengah keluarga yang tergolong sangat sederhana secara finansial, dan kenapa kenapa lainnya sering menghantui pikiran saya.

Namun semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Lulus sekolah menengah saya dan kakak perempuan mendapat pekerjaan yang cukup layak membuat orang tua saya merasa berkecukupan dalam hal finansial. Disamping melihat kakak laki-laki saya yang mungkin saja sudah tidak punya masa depan. Dan lagi, kemudian kakak perempuan saya menikah dengan lelaki desa yang baik hati dan cukup mapan. Membuat finansial keluarga cukup membaik, bahkan dirasa lebih dari cukup. Perlakuan kepada kakak laki-laki saya juga membaik seiring berjalannya waktu. Walaupun sepertinya tidak akan mengubah apapun keadaan kakak laki-laki saya.

Keadaannya kini terlihat memperhatinkan walaupun ia masih terbilang normal karena bukan juga golongan difable yang mempunyai kecacatan fisik. Kecacatannya kini berupa mental. Ia tidak merasakan apa-apa ketika jatuh dan kepalanya berdarah-darah (pernah ia pulang dengan kondisi seperti ini). Ia tidak merasakan bahwa tubuhnya kotor tidak mandi berhari-hari. Ia juga tidak bisa mengatur volume nada suara ketika berbicara, terdengar seperti berteriak. Ia lebih jarang pulang ke rumah. Dan tentu saja, jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan. Seperti itulah.

Mulai sekarang saya mencoba untuk memperlakukan keluarga dan orang-orang terdekat saya sebaik yang saya bisa. Memandang sebuah kesalahan bukan sebagai indikasi bahwa seseorang itu bodoh. Hanya saja, karena memang tidak tau atau kurang paham. Dan juga, menghargai. Saya ingin menghargai apapun yang dilakukan orang-orang terdekat saya dengan berterimakasih ketika seseorang memberikan saya sesuatu apapun bentuknya dan meminta maaf ketika saya berbuat salah. Itu akan saya tanam dalam benak dan pikiran saya, walaupun beberapa hal dirasa sulit. Ya, tapi saya bisa. Harus bisa. Helaaaww ini cuma hidup, kalau kita mau pasti kita bisa, ya kan?